Sabtu, 02 April 2011

abalon

II. TINJAUAN PUSTAKA



2.1. Biologi Abalone
2.1.1. Klasifikasi dan Morfologi Abalone
Kerang abalone memiliki satu cangkang yang terletak pada bagian atas. Pada cangkang tersebut terdapat lubang-lubang dalam jumlah yang sesuai dengan ukuran abalone, semakin besar ukuran kerang abalone maka semakin banyak lubang yang terdapat pada cangkang. Lubang-lubang tersebut tertata rapi mulai dari ujung depan hingga belakang cangkang. Kerang abalone juga mempunyai mulut dan sungut yang terletak di bawah cangkang serta sepasang mata.
Adapun spesies abalone sebagai berikut:
Phylum : Mollusca
Class : Gastropoda
Sub class : Orthogastropoda
Ordo : Vetigastropoda
Super Family : Pleurotomarioidea
Genus : Haliotis
Spesies : Haliotis asinine
Family : Haliotidae


Gambar 1. Abalon (Haliotis asinia)
2.1.2. Habitat dan Tingkah Laku
Kerang abalone biasa ditemukan pada daerah yang berkarang yang sekaligus dipergunakan sebagai tempat menempel. Kerang abalone bergerak dan berpindah tempat dengan menggunakan satu organ yaitu kaki. Gerakan kaki yang sangat lambat sangat memudahkan predator untuk memangsanya.
Pada siang hari atau suasana terang, kerang abalone lebih cenderung bersembunyi di karang-karang dan pada suasana malam atau gelap lebih aktif melakukan gerakan berpindah tempat. Ditinjau dari segi perairan, kehidupan kerang abalone sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Secara umum, spesies kerang abalone mempunyai toleransi terhadap suhu air yang berbeda-beda, contoh; H. kamtschatkana dapat hidup dalam air yang lebih dingin sedangkan H. asinina dapat hidup dalam air bersuhu tinggi (300C). Parameter kualitas air yang lainnya yaitu, pH antara 7-8, Salinitas 31-32 ppt, H2S dan NH3 kurang dari 1ppm serta oksigen terlarut lebih dari 3ppm.
Penyebaran kerang abalone sangat terbatas. Tidak semua pantai yang berkarang terdapat kerang abalone. Secara umum, kerang abalone tidak ditemukan di daerah estuaria yaitu pertemuan air laut dan tawar yang biasa terjadi di muara sungai. Ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adanya air tawar sehingga fluktuasi salinitas yang sering terjadi, tingkat kekeruhan air yang lebih tinggi dan kemungkinan juga karena konsentrasi oksigen yang rendah.
2.1.3 Makanan dan Kebiasaan Makan
Kerang abalone merpakan hewan herbivore, yaitu hewan pemakan tumbuh-tumbuhan dan aktif makan pada suasana gelap. Jenis makanannya adalah seaweed yang biasa disebut makro alga. Jenis seaweed/makro alga yang tumbuh dilaut sangat beraneka ragam. Secara garis besar ada 3 golongan seaweed/makro alga yang hidup di laut, yaitu; 1) makro alga merah (Red seaweeds), 2) alga coklat (Brown seaweeds), dan 3) alga hijau (Green seaweed). Ketiga golongan tersebut terbagi atas beberapa jenis dan beraneka ragam. Keragaman tersebut tidak semuanya dapat dimanfaatkan kerang abalone sebagai makanannya. Berikut ini spesies/jenis seaweed yang dapat dimanfaatkan kerang abalon sebagai berikut:
a. Makro alga merah, yaitu:
- Corallina
- Lithothamnium
- Gracilaria
- Jeanerettia
- Porphyra
b. Makro alga coklat:
- Ecklonia
- Laminaria
- Macrocystis
- Nereocystis
- Undaria
- Sargasum
c. Makro alga hijau, seperti Ulva
Abalon memiliki kebiasaan makan yang tidak tentu. Tingkah laku makan dari abalone tergantung dari tingkat pertumbuhan. Biasanya dalam sehari induk abalone menghabiskan pakan dengan dosis 20- 25 %/ BB/ hari. Dan pakan tersebut dihabiskan dalam 3 kali sehari. Sedangkan awal larva menetas atau trochopore masih tergantung pada kuning telur sebagai sumber nutrisi. Ketika mengalami metamorfosa dan menjadi veliger, larva abalone mulai melekatkan diri pada substrat atau batu dan makan mikroalga terutama epiphite diatom seperti navicula, nitzchia, ampora dan lain-lain. Saat abalone mencapai juvenil awal (panjang shell (cangkang) 4 – 5 mm) sampai abalone dewasa menyukai pakan berupa makroalga seperti rumput laut (seaweed). Jenis rumput laut yang dapat dimanfaatkan kerang abalone sebagai makanan.

2.2. Lokasi dan Wadah Pembenihan
Untuk mendukung lancarnya kegiatan operassional perawatan induk dalam pembenihan abalone, menentukan lokasi harus memperhatikan factor teknis dan factor non teknis. Beberapa aspek penting yang harus di penuhi sesuai dengan standar nasional Indonesia adalah:
a. Letak unit pembenihan di tepi pantai untuk memperoleh sumber air laut. Pantai tidak terlalu landai dengan kondisi dasar laut yang tidak berlumpur dan mudah dijangkau untuk memperlancar transportasi air/
b. Air laut harus bersih, tidak tercemar dengan salinitas 29 – 30 sppt.
c. Sumber air laut dapat di pompa minimal 20 jam / hari.
d. Peruntukan lokasi sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Daerah / Wilayah. Persyaratan lokasi yang termasuk factor nonteknis lainnya adalah adanya beberapa kemudahan, antara lain sarana transportasi, komunikasi, instalasi listrik (PLN), tenaga kerja dan pemasaran. Selanjutnya dilakukan hal lain yang dapat menunjang kelangsungan usaha adalah adanya dukungan dari pemerintah daerah setempat, dan masyarakat sekitar sehingga bila terjadi konflik atau permasalahan yang biasanya muncul tidak akan mengancam kegiatan.
Abalon biasa ditemukan pada daerah yang berkarang yang sekaligus dipergunakan sebagai tempat menempel. Penyebaran abalon sanagt terbatas, tidak semua pantai berkarang terdapat abalon. Umumnya abalon tidak ditemukan di daerah estuarin.
Lokasi untuk abalon adalah perairan karang yang terlindung dari gelombang dan angin yang kuat. Abalon membutuhkan media air ang bersih dan jernih. Nilai parameter kualitas air untuk suhu 27-30ÂșC , salinitas 29-30 ppt, pH antara 7,6-8,1 dan DO 3,27-6,28 ppm. Jika akan dipelihara bak, kualitas airnya harus diusahakan sama seperti di perairan karang.

2.2.2. Wadah Pembenihan
Wadah-wadah yang dipersiapkan antara lain adalah: bak tandon air laut, bak beton vol 2 ton untuk pemeliharaan induk, akuarium volume 200 liter (2 buah) yang digunakan sebagai wadah kultur Isochrysis, dan Nitzchia sp. akuarium vol 100 untuk pemijahan dan pemeliharaan larva.

2.3. Perawatan Induk abalone
2.3.1 Persiapan wadah
Sebelum melakukan pemeliharaan induk, terlebih dahulu mempersiapkan wadah yang berupa bak beton kapasitas dua ton (2x1x1) m3 antara lain: Volume air yang digunakan air air sebanyak 1 ton sehingga ketinggian air / media pemeliharaan induk adalah 50 cm, pemasangan shelter / tempat berlindung induk, pemasangan sistem airasi yang kuat dan merata, pemasangan sistem sirkulasi air 24 jam (minimal penggatian air 100% / hari)
2.3.2. Seleksi Calon Induk
Seleksi Calon Induk di Lokasi Penangkapan
Induk yang dipelihara berasal dari hasil tangkapan yang dilakukan oleh masyarakat. Untuk memilih induk hasil tangkapan ini, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
- Sehat; Gerakan lincah, menempel dengan keras, warna badan tidak pucat.
- Tidak cacat/luka; Cangkang sempurna (tidak pecah), badan/daging utuh tidak tergores.
- Ukuran cangkang; Minimal 3 cm., maksimal 5 cm.
Seleksi Induk di Laboratorium/Hatchery
Seleksi induk dilakukan untuk mempermudah kegiatan pemeliharaan induk dan pemijahan. Beberapa langkah yang dilakukan dalam kegiatan seleksi ini adalah:
a. Pemisahan berdasarkan jenis kelamin; dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1) Jantan, dengan warna gonad ekrem/gading
2) Betina dengan warna gonade biru/biru kehijauan
b. Pemisahan berdasarkan Tingkat Kematangan Gonad; dengan kriteria sebagai berikut:
1) Tingkat Persiapan : isi gonad 0 – 50%.
2) Tingkat Intensif : isi gonad 50% – 75%.
3) Tingkat Pemijahan: isi gonad ≥ 75%
2.3.3. Pemberian aerasi dan shelter dalam bak pemeliharaan induk
Aerasi diberikan sampai dasar dan kuat, shelter untuk tempat berlindung induk terbuat dari pecahan/potongan pipa PVC dengan diameter > 2”
2.3.4. Pergantian dan sirkulasi air
Pergantian air secara total dilakukan setiap hari dan dilanjutkan dengan sirkulasi air apabila suplai memungkinkan.
2.3.5. Penyiphonan dan Pencucian Bak
Penyiphonan dasar bak setiap 2 hari sekali untuk membuang kotoran dan sisa pakan yang busuk.
Pencucian bak 1 kali seminggu untuk mencegah permukaan bak ditumbuhi teritip dan memutus siklus hidup hewan penggangu seperti kepiting.
2.5.6. Pengamatan dan sampling induk
Pengamatan induk dilakukan setiap hari. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kondisi induk secara keseluruhan.
2.5.7. Seleksi Induk Matang Gonade
Seleksi induk matang gonad sekali satu bulan setiap 2 atau 3 hari sebelum bulan purnama. Induk yang matang gonad akan diambil dan dipelihara secara lebih intensif dalam wadah yang lain untuk persiapan pemijahan.


2.4. Pemberian Pakan
Pemberian pakan berupa alga (Gracillaria sp. dan Hypnea sp.) dengan dosis 25% TBW / hari.



2.5. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama merupakan hewan pengganggu dan pemangsa dalam pembenihan dan budidaya abalon. Jenis predator dalam budidaya adalah kepiting laut. Upaya pencegahan dengan cara manual pada periode waktu tertentu.
Kematian massal abalon pernah terjadi dalam tangki pembesaran yang diatasi dengan penggunaan streptomysin dan neomysin. Adapun patogen yang diduga sebagai penyebab kematian abalon adalah bakteri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar